{"id":15823,"date":"2018-08-07T06:34:09","date_gmt":"2018-08-06T23:34:09","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=15823"},"modified":"2018-08-14T17:59:06","modified_gmt":"2018-08-14T10:59:06","slug":"palembang-harus-punya-pusat-kajian-kerajaan-sriwijaya-di-era-industri-4-0","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=15823","title":{"rendered":"Palembang Harus Punya Pusat Kajian Kerajaan Sriwijaya di Era Industri 4.0"},"content":{"rendered":"<p># Universitas Sriwijaya Kejar Tawaran Direktorat Jenderal Kebudayaan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR &#8211;<\/strong> Megaproyek infrastruktur sejarah dan kebudayaan mengenai pusat kajian Kerajaan Sriwijaya segera dibangun di Palembang, ibu kota Sumatera Selatan. Hal itu diungkap Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Kebudayaan Kemendikbud) RI, Hilmar Farid saat membuka secara resmi Seminar &#8220;Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia&#8221;, Senin (6\/8) malam.\u00a0 Seminar berlangsung 7-9 Agustus 2018 di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang.<\/p>\n<p>&#8220;Sriwijaya pusatnya di Palembang. Sriwijaya merupakan himpunan dari pusat-pusat kekuasaan maritim. Ada persaingan dalam narasi (lokasi pusat Kerajaan Sriwijaya). Semua ingin menjadi pusat, ingin menjadi sentral,&#8221; tegas Hilmar Farid, dalam sambutannya, Senin (6\/8) malam.<\/p>\n<p>Menurut Hilmar, semangat energi persaingan (klaim pusat Kerajaan Sriwijaya) ini dapat dikonsolidasi menjadi kekuatan yang lebih besar. &#8220;Palembang pintu masuk Sriwijaya, bukan hanya pengkajian. Kami tidak bicara satu pusat, namun terdiri jadi pusat-pusat himpunan kekuasaan,&#8221; ungkap keynote speaker dalam seminar tersebut.<\/p>\n<p>Masih kata Hilmar, konteks poros maritim dunia sekarang, seperti membangun pelabuhan baru atau kapal baru yang dibeli. &#8220;Poros maritim dunia, mempunyai satu syarat. Tidak kalah penting, konektivitas dalam bidang kesadaran dalam kebudayaan,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Diungkapnya, regionalisme baru muncul sebagai akibat konektivitas tersebut. Seminar ini sangat membantu imajinasi historis. Bekal poros maritim itu, tambahnya, terletak pada konektivitas historis. Dengan kata lain, masyarakat (Nusantara) mengandalkan sungai yang memungkinkan adanya imperium sebesar itu di masa lalu, yakni Kerajaan Sriwijaya.<\/p>\n<p>Diharapkannya, Pemprov Sumsel harus mengangkat studi Sriwijaya. Bukan hanya menarik bagi kalangan sejarawan, jauh lebih luas dari bidang studi itu. &#8220;Sudah sepatutnya memiliki pusat studi mengenai Sriwijaya,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Dikatakan Hilmar, ada tiga lembaga yang akan merealisasikan pusat kajian Kerajaan Sriwijaya, yakni Direktorat Kesejarahan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi dan Pusat Studi Cagar Budaya di Sumatera Barat. &#8220;Saya orangnya praktis, sekali dikeluarkan harus berhasil dalam tahun ini, apakah hanya membentuk tim sebagai langkah awal,&#8221; tegas Hilmar saat konferensi pers.<\/p>\n<p>Hilmar juga menambahkan, dirinya menyampaikan pesan menteri bahwa seminar sejarah kali ini megah sekali, karena Sriwijaya juga megah. Keinginan untuk mengembangkan dan melihat temuan 30 terakhir ini yang menunjukkan hasil capaian dan pertanyaan baru.<\/p>\n<p>&#8220;Seminar ini memunculkan pemikiran yang baru, agenda studi yang baru dan mengembangkan kesadaran masyarakat tentang masa Sriwijaya pudar karena masa maritim pudar,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Ditanya kaitan antara kajian Sriwijaya dengan revolusi industri 4.0, Hilmar menjawab itu sangat penting. Menurut dia, kerja pelestarian cagar budaya dapat dipermudah dengan teknologi. Dirjen memastikan cagar budaya itu aman. &#8220;Dengan teknologi digital (pelestarian cagar budaya) terbantu asal penggunaannya tepat,&#8221; imbaunya.<\/p>\n<p>Terpenting, perubahan cara pandang dari pengelola yang bertanggung jawab terhadap cagar budaya. Kata dia, poros Palembang belum terangkat secara keterbukaan.<\/p>\n<p>Diungkapkannya pula, seminar terbesar mengenai Sriwijaya menerima setiap kalangan. Penyebaran informasi mengenai Sriwijaya harus diberikan kepada para guru. &#8220;Anak-anak mengutamakan kecepatan. Mereka berlomba dengan teknologi digital yang sangat cepat. Bagaimana sekarang menuangkan Sriwijaya secara efektif melalui teknologi,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Di tempat yang sama, Rektor Universitas Sriwijaya, Prof Annis Saggaff langsung menyambut positif tawaran dari Dirjen Kebudayaan terkait rencana pembangunan pusat studi dan kajian Kerajaan Sriwijaya. &#8220;Sebenarnya sudah punya. Sudah kira-kira tiga tahun lalu saya bentuk tim tapi belum bergerak. Karena memang belum tahu cantolannya ke mana, kami bingung. Sudah ada tantangan dari Dirjen tadi akan kami kejar,&#8221; ungkap Annis.<\/p>\n<p>Menurut Annis, Yang punya kewajiban mengurus ini nanti bukan hanya arkeolog, tapi Unsri juga bisa mengelola. Jangan sampai diklaim orang\/negara lain. Annis beranalogi dengan ceritanya. Tahun 2010, lanjutnya, ada orang Thailand dari\u00a0 Srivijaya Institute of Teknologi di Bangkok menanyakan mengapa Unsri pakai nama Sriwijaya. &#8220;Mereka bilang Sriwijaya ada di Thailand. Dia malah suruh ganti nama jangan pakai Sriwijaya,&#8221; cerita Annis.<\/p>\n<p>Rektor Unsri mengungkapkan, pusat studi dan kajian Sriwijaya di bawah lembaga penelitian. Pusat studi Sriwijaya harus berada di Palembang karena dekat dengan Bukit Siguntang. &#8220;Kalau tidak segera, bisa diklaim negara lain,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Asisten III Bidang Administrasi dan Umum Provinsi Sumsel, Edwar Juliartha mengatakan, bicara Sriwijaya tentu melmiliki rasa bangga menyelimuti seluruh lapisan. Pasalnya, ada lima bangsa dianggap anak keturunan Sriwijaya. Sriwijaya nama besar yang tidak bisa dinampikkan sebagai nama besar.\u00a0 Sriwijaya bukan euforia masa lalau, yang menapaktilasi dan memulai peradaban suatu bangsa.<\/p>\n<p>&#8220;Dengan adanya seminar ini menjadi kilas balik untuk mencatat lagi apa yang sudah ada tentang suatu kejayaan yang ada di Bumi Sriwijaya,&#8221; terangnya seraya menambahkan, Sriwijaya kini telah bertransformasi. &#8220;Bisa dipakai siapa saja yang memakai Sriwijaya. Sriwijaya ada di Palembang,&#8221; tutupnya.<\/p>\n<p>Dikaitkan dengan Asian Games, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Irene Camelyn mengatakan, seminar kajian Kerajaan Sriwijaya menjadi salah satu promosi terhadap negara-negara di Asia. &#8220;Ada dua lokasi promosi (termasuk Kerajaan Sriwijaya), yakni di Jakabaring dan BKB (Benteng Kuto Besak),&#8221; ungkap Irene.<\/p>\n<p>Diketahui, seminar yang digelar Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu melibatkan 250 peserta, terdiri dari 12 pemakalah undangan, 50 pemakalah seleksi dan 188 peserta dari akademisi, mahasiswa, guru, instansi, komunitas, pemerhati sejarah.<\/p>\n<p>Selain keynote speaker Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, makalah juga akan dibentangkan Prof Dr John Norman Miksic dari National University of Singapore. Selanjutnya, Prof Dr Zuliskandar Ramly Universitas Kebangsaan Melayu, Prof Dr Susanto Zuhdi (UI), Nurni Wahyu Wuryandari PhD (UI), Helmi Yahya (Dirut TVRI).<\/p>\n<p>Diskusi panel kali ini mengangkat seminar Maritim pada Sriwijaya dari perspektif arkeologi, sejarah,\u00a0 dan antropologi. Maritim Sriwijaya dalam perspektif arkeologi mengupas isu pemahaman lahan basah, teknologi moda transportasi, ekonomi dan perdagangan. Dalam perspektif sejarah mengupas pelawat asing, sumber tertulis aturan kemaritiman, peran Sriwijaya dalam hubungan internasional. Dalam perspektif antropologi mengupas kehidupan dan organisasi suku laut pada masa Sriwijaya. (maz)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p># Universitas Sriwijaya Kejar Tawaran Direktorat Jenderal Kebudayaan &nbsp; PALEMBANG, SIMBUR &#8211; Megaproyek infrastruktur sejarah dan kebudayaan mengenai pusat kajian Kerajaan Sriwijaya segera dibangun di Palembang, ibu kota Sumatera Selatan. Hal itu diungkap Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Kebudayaan Kemendikbud) RI, Hilmar Farid saat membuka secara resmi Seminar &#8220;Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia&#8221;, Senin (6\/8) malam.\u00a0 Seminar berlangsung 7-9 Agustus 2018 di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang. &#8220;Sriwijaya pusatnya di Palembang. Sriwijaya merupakan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":15940,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-15823","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15823","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15823"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15823\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15829,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15823\/revisions\/15829"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/15940"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}