{"id":10284,"date":"2017-08-26T17:43:59","date_gmt":"2017-08-26T10:43:59","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=10284"},"modified":"2017-08-26T20:19:49","modified_gmt":"2017-08-26T13:19:49","slug":"terbukti-mangkrak-taa-diambil-alih-pelindo-ii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=10284","title":{"rendered":"Terbukti Mangkrak, TAA Diambil Alih Pelindo II"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, SIMBURNEWS<\/strong> \u2013 Harapan menyaksikan kembalinya kejayaan Maritim Kerajaan Sriwijaya tampaknya akan segera terwujud. Pasalnya, megaproyek Tanjung Api-Api (TAA) yang sebelumnya diduga mangkrak, akan diambil alih oleh Pelindo II. Hal tersebut diungkapkan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi usai melakukan sosialisasi di Gedung Graha Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Sabtu (26\/8).<\/p>\n<p>Dikatakan Budi, bahwa setelah sosialisasi, dirinya bersama dengan direktur Pelindo II akan langsung meninjau lokasi TAA. \u201cTAA itu sebenarnya sudah selesai 1 atau 2 bulan yang lalu. Kami akan operasikan, tetapi kami memang menginginkan bahwa pelabuhan-pelabuhan yang relatif sudah bisa menghasilkan keuntungan itu akan diberikan kepada pihak swasta. (TAA), kami berikan ke Pelindo II untuk segera dikelola,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Alasannya menurut Budi, agar proposal-proposal yang bisa mengembangkan TAA dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) nya kepada investor adalah entitas korporasi yang punya kapasitas dan punya akses. \u201cJika saya menyerahkan ke KSOP saya (Kemenhub) mereka tidak akan mengerti, tetapi jika diberikan kepada Pelindo II, pertama perusahaannya memang punya konektifitas internasional, punya equity yang cukup, punya evenue yang bagus, sehingga memberikan gambaran bahwa perusahaan itu sehat dan bisa diajak kerjasama untuk membangun KEK dan tanjung Carat. Itu akan akan kami lakukan agar bisa segera dioperasikan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Terkait dengan masalah sedimentasi serta kedalaman pasang surut TAA yang sangat dangkal untuk dijadikan Deep Sea Port, diakui bahwa menurut catatan Kemenhub, kedalaman TAA itu relatif kecil yaitu 4 sampai 5 meter sehingga tidak mungkin dilalui kapal besar. Tetapi semua harus dimulai dan yang penting ada satu operator disana. \u201cKami akan mempertimbangkan apakah kami akan mengeruk atau membangun tanjung Carat. Jadi seaindainya ada pembangunan yang membutuhkan tanah itu untuk reklamasi saya pikir bebas juga disana. Jadi mengeruk tapi tidak memerlukan biaya karena biayanya akan ditanggung oleh investor yang akan melakukan reklamasi,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Terkait solusi kanal untuk menghubungkan TAA dan Tanjung Carat sebagai jalur kapal besar, Budi mengatakan hal tersebut terkait teknis dan belum ingin membahasnya. \u201cSaya tidak akan mengatakan seperti apa karena ahli bisa ngomong tetapi belum tentu dia sudah melakukan studi yang benar terkait itu. Makanya, nanti kami serahkan kepada Pelindo II untuk melakukan studi-studi tentang apa yang paling baik. Untuk sementara ini, dibuat jalan darat. Karena jalur darat fleksibel dan paling efisien. Karena jika memakai kanal lagi, ada perpindahan moda transportasi akan menghabiskan biaya yang lebih besar dan menambah waktu,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Diwartakan <em>Simbur<\/em> sebelumnya, pembangunan pelabuhan Tanjung Api-Api itu sudah didengungkan sejak tahun 1991, sejak masa pemerintahan provinsi Sumsel, Gubernur H Ramli Hasan Basri. Lalu, direalisasikan semasa Gubernur Syahrial Oesman dengan dibangunnya jalan raya yang menghubungkan kota Palembang sepanjang 68 km, disertai dengan pembebasan dan pengalihan fungsi lahan hutan lindung seluas 600 ha untuk areal pelabuhan. Lalu telah dibangun pula pelabuhan kapal penyeberangan ke Tanjung Kelian-Bangka Barat sebagai pindahan dari pelabuhan penyeberangan di Tangga Buntung 32 Ilir, Palembang. Pada tahun 2006 pada jarak kurang lebih 2 km sebelah utara dibangun pula dermaga kapal cargo berupa jetty yang menjorok ke muara sungai Banyuasin.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Gubernur Sumsel, Alex Noerdin tahun 2015 lalu telah merancang berbagai proyek \u00a0wilayah Tanjung Api Api dengan\u00a0total menghabiskan dana sekitar Rp1,193 triliun. Pertama yakni membangun dermaga penyeberangan kapal cepat di Tanjung Api Api. DED sudah disiapkan dan diperkirakan menghabiskan dana hingga Rp10 miliar menggunakan dana APBD Sumsel tahun 2015. Kedua, penyelesaian pelabuhan peti kemas untuk sisi laut dan sisi darat dengan perkiraan dana Rp. 200 miliar. \u00a0Ketiga,\u00a0pengembangan lapangan parkir di pelabuhan penyeberangan Tanjung Api Api seluas 12.810 meter persegi dengan dana Rp180 miliar.<\/p>\n<p>Pemandangan yang berbeda di sekitar wilayah Pelabuhan penyeberangan Tanjung Api-api. Berjarak 2 km sebelum pintu masuk pelabuhan penyeberangan. Wartawan media ini harus menempuh waktu sekitar 2,5 jam dari Palembang untuk sampai ke lokasi proyek, Senin sore (29\/08). Jalan masuk proyek masih berupa tanah liat merah yang dilapisi dengan batuan koral. Diketahui dari informasi papan proyek yang tertera di dinding pos pengawas, proyek gudang petikemas itu bersumber dari dana APBN Tahun Anggaran 2016 dengan biaya Rp17 Miliar. Pengerjaan proyek sejak 2 Mei 2016 lalu hingga kini tak kunjung selesai.<strong>(mrf)<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBURNEWS \u2013 Harapan menyaksikan kembalinya kejayaan Maritim Kerajaan Sriwijaya tampaknya akan segera terwujud. Pasalnya, megaproyek Tanjung Api-Api (TAA) yang sebelumnya diduga mangkrak, akan diambil alih oleh Pelindo II. Hal tersebut diungkapkan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi usai melakukan sosialisasi di Gedung Graha Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Sabtu (26\/8). Dikatakan Budi, bahwa setelah sosialisasi, dirinya bersama dengan direktur Pelindo II akan langsung meninjau lokasi TAA. \u201cTAA itu sebenarnya sudah selesai 1 atau 2 bulan yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10285,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-10284","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10284","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10284"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10284\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10287,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10284\/revisions\/10287"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10285"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10284"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10284"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10284"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}