- Sita 4 Ton Timah Ilegal Senilai Rp1,7 Miliar di Pangkalpinang
- Dilanda Kekeringan, Sejumlah Daerah di Indonesia Kekurangan Air Bersih
- Peringati Hari Bhayangkara Ke-80, Optimistis Kepercayaan Publik terhadap Polisi Terus Meningkat
- Dewan Pertimbangan SMSI Pusat Taufiequrachman Ruki Terima Bintang Kehormatan dari Presiden Prabowo pada Hari Bhayangkara ke-80
- Sambut Hari Bhayangkara Ke-80, Polda Sumsel Gelar Doa Bersama Lintas Agama
Sempat Tertunda Sebulan, Syuting “Mayat Hidup” Dimulai
PEKALONGAN, SIMBUR – Sempat tertunda satu bulan, syuting film horor “Mayat Hidup” akhirnya dimulai. Ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh seluruh tim produksi. Lokasi syuting film besutan sutradara Teguh Santoso itu berlangsung di Sawahjoho Karang Asem, Batang, Pekalongan, Jawa Tengah.
“Kami melakukan tumpengan untuk memulai syuting. Schedule (jadwal) syuting sempat tertunda sebulan karena pemilihan lokasi di beberapa tempat di wilayah Pekalongan,” ungkap Oim Ibrams, pemeran Gurem pada film itu, Kamis (4/7).
Dijelaskannya, film ini merupakan fiksi tentang pertarungan para mayat hidup dari alam gaib dengan manusia alam nyata. Berlatar belakang dendam masa lalu antara tokoh-tokoh karakter yang dihadirkan penulis. “Alur cerita penuh dengan ketegangan dan kejutan yang terjadi di satu tempat dan lingkungan bekas rumah sakit peninggalan Belanda,” ujarnya.
Karakter yang diperankannya, lanjut Oim, Gurem berusaha menumpas para makhluk gaib dengan caranya sendiri. Tujuannya untuk menyelamatkan dr Trasta, istrinya, Pima serta keponakannya Cunong dari kukungan para zombie yang dipimpin oleh Nyi Blorong dan dr Parli.
Harapan semua yang terlibat, kata Oim, semoga produksi ini dilancarkan sampai dinikmati dan disaksikan oleh masyarakat. “Disamping dapat memberikan pesan moral dan kesadaran insan akan masa lalu yang kelam untuk dapat bertobat dan kembali ke jalan yang diridai,” ujarnya.
Diketahui, film tersebut diproduksi Tesis Picture dan Layar Tancep. Film horor itu juga didukung pemeran dari berbagai daerah. Di antaranya dr Trasta (Athoy Herlambang asal Bandung), Pima (Rima Kusuma dari Boyolali). Selanjutnya, Parlin Tampubolon (Bandung), Ghea Agogo (Jakarta), Yossi Mahalawan (Jakarta), Linda Djatnika (Bandung), dan Nety (Semarang).(rel)



