UTI Bumikan Dosen AI di Indonesia, Gunakan Tujuh Bahasa

# Inovasi Pengembangan Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Buatan

 

PALEMBANG, SIMBUR – Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) Lampung mengklaim sebagai perguruan tinggi pertama yang menciptakan dosen AI (artificial intelligence) di Indonesia. Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UTI, Dr Ryan Randy Suryono. “Saat ini Universitas Teknokrat Indonesia merupakan pelopor pendidikan metaverse dan dosen AI di Indonesia,” ungkap Dr Ryan kepada Simbur, Jumat (5/5).

Menurut dia, kecerdasan buatan yang menggambarkan karakter virtual (avatar) tenaga pengajar di kampus tersebut diterapkan pada mata kuliah online atau dalam jaringan (daring). “Kami mengembangkan inovasi pembelajaran dengan menggunakan tools AI (artificial intelligence). Terutama saat postpandemi. Dosen AI ini diterapkan untuk mata kuliah online/daring,” terangnya.

Masih kata Ryan, inovasi yang dilakukan agar pembelajaran tidak monoton. Karena itu, dia bersama timnya mengembangkan tools AI.¬†“Jika tidak ada inovasi maka akan ketinggalan zaman dan pembelajaran jadi monoton. Karena itu, setiap dosen dibuatkan avatarnya. Mahasiswa juga mengumpulkan tugas lewat tools AI,” jelasnya.

Adapun pakar yang membantu Dr Ryan, yakni bidang kecerdasan buatan dan data science dalam tim tersebut yakni Dr Si Dedi Darwis SKom MKom. Bidang Pengembangan Avatar Ade Surahman SKom MKom, dan Bidang pengolahan Text to Speech Donaya Pasha SKom MKom. Selanjutnya, Bidang peneliti dan pengembangan Metaverse Yuri Rahmanto SKom MKom, Bidang pengembangan teknologi pendidikan Achmad Yudi Wahyudin SPd MPd.

Ryan menambahkan, pembuatan dosen AI tidak harus menggunakan robot. “Di sini kami membuat dosen AI dengan menerapkan pemrograman deep learning dan natural language processing (NLP),” ungkapnya seraya menambahkan, salah satu teknologi yang digunakan dalam pengembangannya, kata dia, adalah teknologi text to speech. “Untuk menerjemahkan teks menjadi suara dan sebagainya,” paparnya.

Ryan menjelaskan, ada tujuh bahasa yang digunakan dosen AI. Itu menjadi salah satu keunggulan program dosen AI yang tengah dikembangkan UTI. “Saat ini kami sudah menyediakan tujuh bahasa yaitu bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Korea, Mandarin, Jerman, Arab. Di samping beberapa bahasa lain seperti Italia dan Rusia,” sebutnya.

Terkait dukungan pemerintah daerah dan universitas untuk pengembangan dosen AI, Ryan memastikan bahwa Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr HM Nasrullah Yusuf SE MBA sangat mendukung kreativitas pembelajaran berbasis AI. Beliau menyampaikan bahwa “We have to adapt with the rapid speed of change, otherwise we lost”. Demikian halnya, Wakil Rektor Dr H Mahathir Muhammad SE MM juga memberikan respon positif atas peluncuran dosen AI. Beliau memberikan arahan untuk terus mengembangkan teknologi AI dan membuat terobosan baru untuk pendidikan.

“AI membuat kita dapat melakukan berbagai hal yang sebelumnya sulit dilakukan secara manual. Sehingga kita perlu memanfaatkan tools AI dan membumikan AI tersebut,” tegasnya.

Ditanya apakah pengembangan dosen AI sesuai regulasi UU Guru dan Dosen, Ryan menanggapinya secara bijak. Menurut dia, regulasi UU Guru dan Dosen tidak secara khusus membahas pengembangan dosen AI. “Pengembangan dosen AI dapat menjadi bagian dari pengembangan profesi dosen yang diatur oleh UU Guru dan Dosen,” ujarnya.

Dalam UU Guru dan Dosen, kata dia lagi, terdapat beberapa ketentuan terkait pengembangan profesi, seperti pengembangan kompetensi, peningkatan kualitas, dan pengembangan riset dan inovasi. “Pengembangan dosen AI dapat menjadi salah satu bentuk pengembangan kompetensi dan peningkatan kualitas dosen yang diatur dalam UU Guru dan Dosen,” bebernya.

Selain itu, lanjutnya, dalam rangka pengembangan riset dan inovasi, dosen AI ini merupakan inovasi dalam pembelajaran di kelas. “Ini tidak menggantikan posisi dosen, namun sebagai bentuk kreativitas belajar mengajar,” tegasnya.

Mengapa memilih dosen AI dalam inovasi tersebut, Ryan memaparkan, riset dosen AI merupakan bagian dari Riset Besar Metaverse Teknokrat. “Saat ini kami telah memiliki Metaverse Mall Teknokrat, dan Metaverse Kampus Teknokrat yang tergabung dalam Teknokrat Universe,” ujarnya.

Mahasiswa, lanjut dia, dapat bimbingan secara virtual, melakukan diskusi di dunia virtual yang disediakan. “Mereka memiliki karakter virtual (avatar) yang dapat mereka operasikan di Metaverse Teknokrat,” ungkapnya.

Beberapa dosen AI, tambahnya akan mempresentasikan materi di dalam dunia virtual tersebut. “Selain itu, Dosen AI sudah kami terapkan dalam pembelajaran daring. Ini merupakan inovasi baru. Semua tugas mahasiswa berbasis AI,” ungkapnya.

Ryan mengungkap, momen tersebut sudah dilakukan di semester ini, karena perkuliahan dan pembelajaran sudah berbasis AI. “Kami juga mengenalkan ke mahasiswa Tools A.I yang kekinian untuk mereka gunakan dalam membuat tugas, presentasi, bahkan membuat konten-konten menarik,” tandasnya.(red)